Kekerasan Dalam Sepak Bola sudah sering terjadi. Bukan hanya di tanah air, melainkan juga hingga ke luar negeri. Kecurangan dan kekalahan menjadi sebuah alasan pembenaran dalam tindakan kekerasan. Slogan yang selalu dicanangkan dalam setiap kegiatan sepakbola “Fair Play” seringkali ditabrak oleh arogansi ego yang berlebihan.
Di Indonesia sendiri, kasus kekerasan dalam sepak bola seakan menjadi hal lumrah. Nyaris setiap digelar ajang pertandingan sepakbola dan hingga SEPAKBOLA KAMPUNG pun, ancaman kerusuhan dan kekerasan seakan mengintai. Dampaknya, rasa trauma muncul khususnya pada mereka yang sudah pernah menjadi korban kekerasan akibat pertandingan sepak bola ini.
Mulai dari perkelahian antar pemain, perkelahian antara pemain dan suporter hingga kerusuhan antar supporter sepakbola yang kadang meluas hingga luar stadion. Korban yang berjatuhan bukan hanya dari kalangan penonton saja. Tak jarang orang yang sedang melintas di kawasan stadion pun bisa terkena imbas dari pergesekan antar supporter sepakbola. Tak mengenal umur, besar kecil, tua muda..asal pukul asal libas asal sikut. Buat apa susah-susah bermain sepak bola jika pada akhirnya berbuah pada diri sendiri yang menjadi korban, kaki patah, kaki beseh, DITEMPELENG dan BIRU. Mau olahraga untuk badan sehat atau nyari sakit badan???
Tambahan lagi, pake otak dan lebih manusiawi juga donk kalau main sepakbola…sepak bola untuk having fun atau untuk adu jotos, saling tendang, saling sikut?
Toh tujuannya juga untuk senang-senang dan menumbuhkan rasa sportivitas..ga usah lah maen yg keras-keras, saling sikut, saling tendang.
#terinspirasikan saat salah satu adikku (kelas 5 SD) menjadi korban dan sekaligus pelaku#
#disikut oleh orang yang lebih tua darinya (bapak2), kemudian dia balik nyikut, ditempeleng entah dipukul hingga dahinya biru#
Kepada para pemain sepakbola yang baik….
NO !!!!!!!!!! kekerasan ok!!!!!!